SBM ITB Tutup GPBL 2026 di Ciamis: Kolaborasi Lintas Negara, Solusi Nyata untuk Desa
SBM ITB resmi menutup Global Project-Based Learning (GPBL) 2026 di Ciamis. Program kolaborasi antara Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), Universiti Utara Malaysia (UUM), dan Universitas Galuh ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terjun langsung ke desa, mengamati persoalan, lalu merumuskan solusi.
Sebanyak sepuluh kelompok mahasiswa dari berbagai universitas sebelumnya mengunjungi desa-desa di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Mereka mengeksplorasi berbagai isu, mulai dari potensi pala dan kopi hingga berbagai persoalan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat setempat.
Sepuluh Kelompok Mahasiswa Paparkan Solusi untuk Desa Ciamis
Dalam sesi presentasi, setiap kelompok mahasiswa menyampaikan hasil observasi dan solusi yang mereka susun selama mengikuti GPBL 2026. Beberapa kelompok mendapat penghargaan karena dinilai memiliki insight dan solusi paling mendalam.
Program ini tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran berbasis proyek. Mahasiswa diajak memahami konteks nyata di lapangan, bukan sekadar teori di ruang kelas.
Keberlanjutan Lingkungan Jadi Dasar Pengembangan Ekonomi Desa
Pada upacara penutupan, ahli pengelolaan kehutanan Andang Priadi menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan harus menjadi dasar pengembangan kegiatan ekonomi desa. Menurutnya, solusi ekonomi yang dirancang mahasiswa harus memberi manfaat nyata bagi warga.
“Jika habitat asli rusak, apa yang akan mereka makan? Ketika manusia merancang prototipe ekonomi di tingkat desa, harus ada manfaat bagi penduduk desa,” ujar Andang.
Andang juga membahas perkembangan kawasan Gunung Sawal, gunung dan hutan tertinggi di Ciamis. Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut telah lama menopang kehidupan masyarakat sekitar.
“Banyak aktivitas ekonomi terkait budidaya di lereng gunung. Kopi dan aren ditanam di sana, dan beberapa lokasi juga dikembangkan sebagai destinasi wisata. Ini semua adalah kondisi empiris Gunung Sawal, bagaimana aktivitas ekonomi selaras dengan observasi, namun tetap mematuhi tata ruang dan regulasi yang ada,” jelasnya.
Kualitas, Bukan Sekadar Kuantitas
Dosen Universitas Galuh, Kornel Soemardi, menekankan bahwa tujuan program ini bukan hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas. Menurutnya, pengalaman belajar terbesar justru muncul ketika peserta kembali ke lokasi masing-masing dan mendiskusikan program tersebut.
“Pengalaman belajar terbesar adalah ketika peserta kembali ke lokasi masing-masing dan mendiskusikan program,” kata Kornel.
Penutupan GPBL 2026 dan Harapan Kolaborasi
Rangkaian acara resmi ditutup dengan awards ceremony dan sesi dokumentasi bersama. Melalui program GPBL 2026, kolaborasi antaruniversitas diharapkan dapat memperkuat hubungan kelembagaan, memberikan pembelajaran berharga bagi peserta, serta menghadirkan insight dan kontribusi nyata bagi desa.
Kategori
GPBL
Dipublikasikan pada
Sep 23, 2026
Tampilan
15