Coaching Series: Praktik Pengambilan Keputusan Berbasis Data di Era Industri 4.0
Menghadapi tantangan era digital, banyak perusahaan berlomba bertransformasi menjadi data-driven company. Namun, masih ada banyak mispersepsi tentang fenomena yang ramai dibahas di era Industri 4.0 ini.
SBM ITB menangkap peluang tersebut melalui diskusi publik online pada Sabtu, 19 September 2020. Acara ini merupakan sesi kedelapan SBM ITB Webinar Series yang konsisten dijalankan oleh sekolah bisnis nomor satu di Indonesia tersebut.
Acara dibuka dengan pemaparan konsep dasar pengambilan keputusan berbasis data oleh Direktur Big Data and Business Analytics Laboratory (Datalab) SBM ITB, Dr. Eng. Manahan Siallagan. Ia membuka wawasan bahwa manusia sering menggunakan intuisi sebagai alat pengambilan keputusan. Sayangnya, intuisi tidak selalu membawa pada hasil terbaik yang diharapkan.
Proses berpikir konvensional yang mengandalkan intuisi memang manusiawi. Namun, begitu kita memahami keterbatasannya, kesadaran untuk bertransformasi menjadi langkah berikutnya. Dari hasil diskusi dengan peserta, Lidia Mayangsari sebagai moderator menyimpulkan bahwa peran data dalam proses pengambilan keputusan sangat signifikan. Bukan untuk mengalahkan intuisi, melainkan untuk melengkapi dan mempertajam intuisi. Ketika kebiasaan menganalisis data sebelum mengambil keputusan dilakukan berulang, intuisi yang terbentuk akan semakin tajam dan berbasis data.
Transformasi Data-Driven Dimulai dari SDM, Bukan Teknologi
Substansi akademik dari Manahan Siallagan diperkuat oleh paparan praktisi: I Made Ariya Sanjaya (CEO Kazee), Bey Arief Budiman (Head of Delivery Yellowfin Indonesia), dan Muhammad Apriandito (CEO Technaut).
Sebagai salah satu pemain utama digital start-up di Indonesia, Ariya menegaskan bahwa untuk menjadi data-driven organization, transformasi harus diterapkan pada sumber daya manusia terlebih dahulu, baru diikuti perubahan teknologi.
“Kemampuan data literacy karyawan harus ditingkatkan, bahkan secara bertahap,” ujarnya.
Strategi lain untuk mempercepat transformasi data-driven adalah transparansi proses bisnis dari perusahaan ke setiap departemen yang menangani data. Tujuannya memberi makna lebih pada data yang dimiliki perusahaan dan mempercepat aliran komunikasi data.
Strategi Data-Driven Harus Kontekstual dan Unik
Hal ini diperkuat oleh Bey dari Yellowfin Indonesia bahwa setiap perusahaan unik dan berbeda secara kontekstual.
“Strategi data-driven ini harus dispesifikkan untuk satu perusahaan. Satu strategi tidak bisa diterapkan ke semua perusahaan karena input datanya berbeda, sistem operasinya berbeda, budaya datanya berbeda. Unik,” jelasnya.
Untuk menjadi data-driven company, sebaiknya perusahaan membuat sistem terintegrasi guna menyederhanakan proses analisis dan pengambilan keputusan. Meskipun banyak software tersedia, Apriandito dari Technaut yang juga programmer di Datalab SBM ITB merekomendasikan agar perusahaan akrab dengan R programming language.
“Bahasa R sangat mudah, open access, dan berbasis komunitas. Ini nilai plus R karena pendukungnya tersebar di seluruh dunia. Mudah digunakan, tetapi penting bagi kita untuk bisa memahaminya,” tambahnya.
Banyak Data Belum Tentu Data-Driven
Sebagai penutup, moderator menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki banyak data belum tentu merupakan data-driven company. Ada proses dan habituasi baru yang harus dilakukan agar sumber daya dan teknologi perusahaan dapat adaptif terhadap data analysis.
Perubahan ini tidak mudah, membutuhkan waktu, dan mahal. Namun, jika perusahaan berhasil melewati proses tersebut, budaya data-driven akan memandu perusahaan untuk memimpin kompetisi.
Kategori
Data-Driven Decision Making, Pengambilan Keputusan Berbasis Data
Dipublikasikan pada
Oct 12, 2026
Tampilan
6